Berlimpah Dunia Bukan Tanda Kecintaan Allah — Dalam hal dunia, orang kafirpun juga Allah beri dan Allah berikan dunia juga untuk orang mukmin, sehingga standar dunia itu bukan standar kecintaan Allah kepada hamba-Nya, karena secara umum ketika manusia itu diberikan kesehatan, kelapangan, & kelancaran dunia maka beranggapan bahwa Allah memuliakan dirinya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Fajr Ayat 15,
فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ
Artinya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.”
Begitupun sebaliknya jika mendapatkan kesempitan hidup, merasa dihinakan oleh Allah, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Fajr Ayat 16,
وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ
Artinya: “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.”
Ini adalah pandangan yang salah, karena dunia bukan standar kecintaan Allah kepada hamba-Nya, dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ
“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
—
Faedah Kajian “Aku Takur Rezekiku Sempit Kalau Aku Jadi Orang Sholih.”
Bersama Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A. hafidzhahullahu ta’ala



COMMENTS