Hakikat Kaya — Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan panduan bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan dunia dalam sebuah hadits, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),
“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”
[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183)]
Jika orientasinya adalah dunia maka urusannya akan dicera beraikan & senantiasa merasa fakir, namun jika orientasinya kampung akhirat Allah akan memberikan rasa qona’ah bagi hamba, hakikat kekayaan adalah seorang hamba bisa qona’ah dengan apa-apa yang telah diberikan Allah kepadanya.
Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.”
[HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 105]
—
Faedah Kajian “Prinsip Hidup Seorang Muslim.”
Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A. hafidzhahullahu ta’ala



COMMENTS