‘Iedhul Fithri, Layak kah Bersedih?

‘Iedhul Fithri, Layak kah Bersedih?

Sahabatku,
Inilah hari yang banyak di nanti kebanyakan orang, ‘Iedhul Fithri, hari bahagia karena seakan telah lepas dari beban berat selama sebulan, sekarang seakan bebas tanpa belenggu, sehingga bahagia lepas, kembali bisa berbuat apapun tanpa malu.

Sahabatku,
Apakah dirimu juga begitu, pasti tidak begitu dan jangan sampai begitu.

Sahabatku, memang ‘iedhul fithri saatnya kita gembira, karena memang begitulah sabda nabi kita yang mulia menukil dari Rabbnya,yaitu hadist qudsi.
Allah Ta’ala berfirman,
للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه
“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (muttafaq ‘alaihi)

Setiap sore maghrib kita berbuka, sungguh gembira, demikian juga saat hari raya, gembira fithrahnya manusia yang kembali bertemu kesukaannya makan minum dan aktivitas suami istri, lepas dari derita lapar dan haus seperti saat saat siang puasanya.
Sekarang bisa kembali menikmatinya, tapi seorang mukmin bukan hanya itu saja, gembira dengan karunia Rabbnya, yang telah menolong dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya, gembira dengan kelezatan ibadahnya, gembira dengan janji pahalanya yang berlipat ganda, sehingga dengan ketaatan, dunia ini telah menjadi seperti surga, karena hanya dengan ketaatan hamba bisa merasakan kebahagian sejati, adapun jika bukan karena ketaatan, semuanya hanyalah kesenangan semu dan berakibat sengsara.

Adapun yang satu lagi kebahagiaan saat menghadap Rabbnya, jannatun na’im tempat kembalinya, bertambah bonus puncak kenikmatan, melihat wajah Rabb Yang Maha Mulya,..yang nilai kebahagiaanya bahkan bisa melupakan semua kenikmatan surga, kenikmatan mana lagi yang dirindukan hamba yang fakir ini, inilah kenikmatan yang nabi kitavpun sampai berdoa khusus,
“Ya Rabb, aku minta kelezatan melihat wajah-Mu dan kerinduan bertemu dengan-Mu.”
Sahabatku, ternyata di hari yang gembira ini, sebagian salaf justru bersedih, salahkah mereka, jangan kita tuduh mereka tidak mengamalkan hadits nabi, tapi ini maqamnya orang yang telah berbeda dengan kita yang masih minim kadar imannya.
Mereka selama ini merasakan lezatnya kesibukan ibadah, mereka tidak lagi merasakan derita keringnya tenggorokan dan laparnya perut tapi mereka telah sampai pada tingkatan lezatnya haus di terik siang hari dan laparnya perut karena yang ada di hati mereka bagaimana memuaskan Sang Kekasih Yang Maha Indah.

Mereka selama ini sangat menikmati keyakinan janji pahala berlimpah seakan meeka lihat di depan mata, yang jika kehilangan kesempatan itu lebih sedih dari kehilangan gunung emas yang sering jadi rebutan manusia.
Sekarang mereka telah berpisah dari bulan yang sebelumnya sangat dirindukan ,bulan yang kesibukan ibadahnya membuat mereka lezat merasakan,. terlebih yang mereka masih terasa berat memikirkan apakah amalannya selama ini diterima Sang Kekasih, yang bagi mereka berita diterimanya amal mereka lebih mereka cintai dibandingkan dunia dan seisinya, sedangkan sekarang mereka belum mendapatkan berita pasti apakah amalannya diterima atau tidak, kalau begini kondisi mereka layakkah kalau mereka di hari yang bahagia ini justru nampak bersedih? tentu sangat maklum. Sahabatku, itulah kondisi mereka.

Diriwayatkan dari ‘Alî Radhiyallâhu anhu bahwa di malam akhir bulan Ramadhan, beliau berseru:
يا ليت شعري من هذا المقبول فنهنيه ومن هذا المحروم فنعزيه
“Aduhai sekiranya kutahu siapa gerangan yang diterima amalnya sehingga kudapat mengucapkan selamat kepadanya, dan siapa gerangan yang tertolak amalnya sehingga ku dapat berbela sungkawa kepadanya.”
[Lathâ’if al-Ma’ârif hal. 210]

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd Radhiyallâhu anhu, bahwa beliau pernah keluar di penghujung malam terakhir bulan Ramadhan, lalu berseru:
مَنْ هَذَا الْمَقْبُولُ اللَّيْلَةَ فَنُهَنِّيهِ، وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُومُ الْمَرْدُودُ اللَّيْلَةَ فَنُعَزِّيهِ، أَيُّهَا الْمَقْبُولُ هَنِيئًا، وَأَيُّهَا الْمَرْحُومُ الْمَرْدُودُ جَبَرَ اللَّهُ مُصِيبَتَكَ
“Barangsiapa yang diterima amalnya di malam ini, maka kuucapkan selamat padanya. Dan barangsiapa yang tertolak amalnya di malam ini, maka aku berbelasungkawa kepadanya. Wahai orang-orang yang diterima amalnya, selamat! Wahai orang-orang yang tertolak amalnya, semoga Allah mengasihimu di dalam musibahmu.”
[Mukhtashor Qiyâmul Layl karya al-Marrûzi hal. 213]

Inilah perbandingan antara kita dengan mereka, simak ungkapan Sang Kholifah Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz berkata tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri.
Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” ,
Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”
Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh antara kita dengan mereka. (Lathaif Al Ma’arif, 368-369)

Sahabatku, singkat cerita,
Mari kita rayakan hari bahagia ini bukan dengan lumuran dosa dan maksiat apalagi ditambah tenggelam dalam kelalaian kepada Rabbnya, terlebih bahkan ada yang sampai meninggalkan sholat, lalu dengan berbinar binar mengucapkan,
SELAMAT DI HARI KEMENANGAN INI,
kemenangan dari apa kalau begini gayanya, Sahabatku, sudah selayaknya kita sedikit berusaha meniru salaf kita yang sholih, selalu mendekat dan bertaubat.
تقبل ااه منا و منكم،
Semoga Allah tetap menerima amal amal kita yang tidak seberapa ini..dan mengampuni segala dosa dan kekurangan hamba-Nya, hanya kepada Allah kita berharap segalanya..
رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

– Afifi Abdul Wadud –
Sahabatmu yang faqir ilaa maghfirati Rabbi

COMMENTS

WORDPRESS: 0