Mukmin, Antara Sabar dan Syukur — Bahwasanya seorang muwahid itu adalah mereka yang mensyukuri nikmat Allah dengan sempurna demikian pula senantiasa bersabar dengan musibah yang menimpanya karena iman itu antara syukur dan sabar, sehingga semakin sempurna tauhidnya maka akan semakin sempurna rasa syukurnya dan ketika berkurang kadar tauhidnya maka akan berkurang rasa syukurnya.
Oleh karena itu kadar tauhid seseorang akan sangat mempengaruhi rasa syukurnya atas nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepadanya.
Maka ahli tauhid senantiasa yakin dengan janji & ancaman Allah sehingga berusaha menghiasi harinya dengan ketaatan & menjauhi kemaksiatan agar Allah senantiasa menurunkan pertolonganNya & tidak pernah merasa putus asa ketika musibah melanda, Allah Azza wa jalla memperingatkan kita dalam Surat Fussilat Ayat 49,
لَّا يَسْـَٔمُ ٱلْإِنسَٰنُ مِن دُعَآءِ ٱلْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ ٱلشَّرُّ فَيَـُٔوسٌ قَنُوطٌ
Artinya: “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.”
Putus asa bukanlah akhlak kaum mukminin, karena mukmin itu meyakini bahwa rahmat Allah itu luas bagi hambaNya, diantara bentuk su’udzon kepada Allah karena tidak mengenal Allah dengan mendalam, kesempurnaan pengabdian seorang hamba tergantung dari seberapa jauh pengenalan hamba tentang Allah.
—
Faedah Kajian “Kufur Nikmat.”
Bersama Ustadz Afifi Abdul Wadud, B.A. hafidzhahullahu ta’ala



COMMENTS