Pentingnya Aqidah dalam Kehidupan Umat [2]

  • by

Penulis : Ust. Afifi Abdul Wadud hafizhahullah

3. Kebutuhan manusia terhadap aqidah melebihi kebutuhan manusia terhadap air dan udara

Siapa pun tahu betapa besarnya kebutuhan manusia akan air, apalagi udara untuk bernafas. Akan tetapi, masih ada yang lebih penting dari pada itu semua? Yaitu sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari hidup manusia, karena segala urusannya tidak bisa berjalan dengan baik tanpa keberadaannya. Urgensinya melebihi apa pun yang dianggap penting dan mendesak, yaitu aqidah Islam. Karena sesungguhnya ia adalah kebutuhan hakiki untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akheratnya.

Seseorang yang aqidahnya benar, hidupnya mantap, sebagaimana mantapnya pohon yang kokoh akarnya. Dia tahu, diciptakan di dunia ini dari mana, untuk apa, ke mana perjalanan hidup selanjutnya setelah mati, memiliki program hidup yang jelas sehingga dapat meraih kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Dia akan tahan banting dalam menghadapi segala ujian kehidupan karena dia tahu ujian datang dari Allah dan dibalik ujian terdapat hikmah serta ketinggian derajat.

Sedangkan, pemilik aqidah yang rusak, semuanya serba tidak jelas, sehingga kebahagiaan yang didambakanpun hanya semu. Bagaimana tidak semu ? Kalau semua yang diraihnya hanya dibayangi dengan kematian yang dianggap akan menghancurkan segalanya. Itulah, orang-orang Atheis, Yahudi, Nasrani, Animisme, Dinamisme dan orang-orang musyrik dari Eropa, Amerika dan dari kawasan (baca: negeri-negeri) Barat atau benua lainnya. Amal-amal mereka tumbuh dari keyakinan dan aqidah yang rusak.  

Orang yang aqidahnya rusak (tidak benar) bagaikan orang yang berjalan sungsang, berjalan di atas wajahnya (dengan kepala di bawah), berjalan miring, tidak tahu arah dan tujuan sehingga bingung dan tersesat. Hal ini digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), ”Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS Al-Mulk[67]:22)

4. Aqidah mendidik menjadi muslim yang tangguh menghadapi ujian hidup

Orang-orang yang aqidahnya benar dan lurus, mengetahui hakikat dirinya dan hakikat kehidupan ini, sebagaimana firman Allah (yang artinya), Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan”. (QS Al-Anbiyaa’[21]:35)

Dan yang terpenting dalam menghadapi ujian adalah kelulusan, sedangkan bentuk kelulusan ujian ini apabila seseorang tetap istiqomah di atas agamanya dalam segala kondisi.

Bagi yang lulus ujian disediakan baginya surga dan bagi yang tidak lulus disediakan neraka. Seorang mukmin yang lulus ujian di dalam kehidupannya adalah orang yang istiqomah di atas agama Allah.

Dalam hal ini Allah telah mengingatkan adanya pandangan manusia yang salah terhadap ujian bagi manusia, sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya), ”Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.  Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS Al Fajr[89]:15-16)

Perhatikanlah ayat di atas, bagaimana Allah menolak anggapan manusia yang salah, kalau diuji dengan kesenangan komentarnya Allah memuliakan, tapi kalau diuji dengan kesulitan berkomentar Allah menghinakan. TIDAK.. Demikian Allah menolak/membantah mereka. Sesungguhnya semua itu merupakan ujian Allah ta’ala, mana mereka yang akan bersikap benar dengan ujian tersebut..

Para nabi dan rasul adalah teladan terbaik dalam menyikapi ujian kehidupan, baik ujian kebaikan/nikmat dan kemudahan (diantaranya; Nabi Yusuf ketika telah menjabat dan Nabi Sulaiman yang raja), maupun ujian keburukan/musibah dan kesulitan (diantaranya; Nabi Ayyub, Nabi Yunus, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi ’Isa , dan Nabi Muhammad), ‘alaihimush sholatu was salam. Lihatlah mereka yang telah diuji Allah ta’ala

Dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, disegerakan baginya kesusahan (balasan buruk) sewaktu di dunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukan seorang hamba-Nya, ditangguhkan pembalasan atasnya sehingga hari Kiamat.” (HR.Tirmidzi)

Telah ada contoh manusia-manusia tangguh (aqidah Islamnya) dalam perjalanan mereka dalam beragama. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri tidak perlu ditanyakan lagi, dimana sejak awal sampai akhir dakwah beliau adalah hamba Allah terbaik. Rasulullah dan para Sahabat mengalami berbagai macam penganiayaan, penyiksaan dan penghinaan yang diakibatkan oleh dakwah tauhid yang beliau sampaikan kepada kaumnya (Kafir Quraisy).

Cobalah simak sekilas kisah dibawah ini:

Pertama. Kisah Khabbab bin al-Arat

Ketika datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan memar dan babak belur sekujur badannya akibat penganiayaan. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Khabab bin al-Arat, ia berkata: “Aku datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang berteduh di Ka’bah. Kepada beliau aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda tidak memohonkan pertolongan Allah bagi kami? Apakah Anda tidak berdo’a bagi kami?”. Beliau menjawab, “Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Akan tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan keimanan. Adalah keliru jika engkau mengira bahwa penganiayaan dan penyiksaan itu akan menimbulkan keputusasaan dan pesimisme. Tetapi sebaliknya justru menjadi pertanda akan dekatnya kemenangan. Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini, sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadramaut tanpa rasa takut kepada siapapun juga selain Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian tampak terburu-buru.”

Kedua. Kisah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam

Orang-orang Quraisy membuka pakaian Bilal, lalu memakaikan baju besi dan membiarkannya terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuhnya sambil memaksa agar mencaci maki Nabi Muhammad. Selain itu mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….” Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Ketiga. Kisah Ammar, Yasir ayah Ammar, dan Sumayah ibunya Ammar

Yasir berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan merasa betah tinggal di Mekkah. Bermukimlah ia di sana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughirah. Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath. Dan dari perkawinan ini, kedua suami istri itu dikaruniai seorang putra bernama ‘Ammar. Keislaman mereka termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun (generasi pertama).

Dan sebagaimana halnya orang-orang saleh yang termasuk dalam golongan yang pertama masuk Islam, mereka cukup menderita karena siksa dan kekejaman Quraisy. Setiap hari Yasir, Sumayyah dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekkah yang demikian panas, seperti Bilal lalu didera dengan berbagai azab dan siksa.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam selalu mengunjungi tempat-tempat yang diketahuinya sebagai arena penyiksaan bagi keluarga Yasir. Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam mengunjungi mereka, Ammar berkata, “Wahai Rasulullah, azab yang kami derita telah sampai ke puncak.”

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan. Sabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah surga”. Kalimat itulah yang menjadikan keluarga Yasir memiliki semangat di dalam mempertahankan aqidah Islam.

Inilah diantara sepenggal kisah dari manusia pilihan yang telah terdidik dengan aqidah Islam yang menancap di hati, segala penderitaan rela ditanggung karena mengharap segala kenikmatan yang dijanjikan Rabbnya Yang Mahamulia yaitu Jannah (surga). Tanpa aqidah yang tertanam di hati tidak mungkin mereka akan bertahan seperti itu. Oleh karena itulah aqidah dulu kalau mereka tahu

Bersambung insya Allah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *